Kamis, 21 Februari 2013

Maaf, Aku Tak Mendoakanmu

Diluncurkan oleh Bocah Psikologi di 11.22.00
Alhamdullillah entah untuk yang keberapa kalinya.

          Pagi ini tak ada yang berbeda dari biasanya, ke kantor pun masih tetap ditemani pegasus dan rintik gerimis yang merangkul dinginnya pagi ini. Sampai dikantor pun tetap masih gelap gulita dan tetap masih kepagian juga walau berangkat sudah lebih siang. *ibukota mulai bersahabat sepertinya*.

          Pagi ini ada pembicaraan yang bermanfaat via chatting. Awalnya pembicaraan ngalor ngidul kemanapun mood ini menyukainya. Hingga berlabuh pada pembicaraan tentang seorang anak yang selalu protes pada mata kuliah agama di kampus. cekidot ==> 



          Dari obrolan itu ane jadi inget suatu hari saat mentoring di zaman sekolah dulu. Tentang berbakti kepada orang tua yang ada dalam Al-qur'an “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Israa` [17]: 23).
          Dan ketika itu, ada pertanyaan bagaimana dengan seorang anak yang orang tuanya sudah meninggal sejak anak ini lahir di muka bumi ? bagaimana cara berbaktinya ?, sang guru hanya menginformasikan suatu hadits yang memiliki isi seperti demikian "menshalatkan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji mereka berdua setelah keduanya (wafat), menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) yang tidak akan tersambung kecuali melalui keduanya, dan menghormati teman keduanya." (HR. Abu Dawud).
          Kemudian disambung pertanyaan dari ane perihal bagaimana cara kita berbakti kepada orang tua yang berbeda agama dan beliau sudah meninggal ?. *suasana hening sejenak*. Kemudian guru ane membuka Al-qur'an dan menjelaskan firman berikut “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.” (QS. At-Taubah 9: 113)
.
          Berdasarkan dalil tersebut, maka ketika orang tua kita berbeda agama dan sudah meninggal maka kita tidak diperkenankan untuk mendoakannya kecuali ketika beliau masih hidup maka kita diperkenankan untuk mendoakan dengan tujuan agar beliau mendapatkan hidayah-Nya. Hal ini pernah dilakukan oleh Baginda Rasulullah saw. Ketika beliau mendoakan pamannya, Abu Thalib, agar mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

0 Ocehan:

Posting Komentar

 

Bocah Psikologi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review