Rabu, 19 Desember 2012

Aku Memilih-Mu, Islam

Diluncurkan oleh Bocah Psikologi di 13.26.00


Tulisan ini ane tuliskan untuk mengikuti lomba kisah inspiratif dan ane dedikasikan kepada teman seperjuangan beberapa tahun terakhir.

Hari ini merupakan hari yang ditunggu oleh Dhiba setelah sekian lama menanti. Perjuangan pun baru akan dimulai hingga tiba waktunya berakhir pada suatu hari nan indah bagi semua orang. Seleksi saat itu membawa Dhiba ke perguruan tinggi yang didambakan oleh dirinya dan rekan-rekan sekolahnya.
“silahkan memperkenalkan nama kalian dan asal sekolah” ujar kakak senior. “nama saya Dhiba caroline simanjutak dari SMA strada Tangerang” singkat Dhiba. Perkenalan pun berlangsung sekitar 30 menit dari mahasiswa dan mahasiswi baru pada kelompok ‘microwave’. Dan dilanjutkan dengan membagi kelompok kecil yang beranggotakan 5 sampai 6 orang.
Saat ini Dhiba mendapat kelompok yang beranggotakan 6 orang dengan 2 laki-laki dan 4 perempuan. Diantara mereka tidak ada yang saling mengenal sehingga mereka pun berinisiatif untuk berkenalan kembali. “Raid”, “Cicit”, “Dina”, “Rasya”, “Lita” dan “Dhiba” sahut mereka secara bergantian. Setelah perkenalan tersebut, mereka menentukan rencana untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh para senior.
“ban ditarik itu bandrek tau” jawab Cicit. “oiya,bener juga. Hebat kamu” timpal Dina. Dan yang lainnya sedang sibuk dengan karton dan gunting yang berada dihadapan mereka untuk membentuk sebuah microwave dan bintang besar. “warna merah aja microwavenya” sahut Raid. “gak ada Id kartonnya, cuma ada warna hijau nih. Gpp ya?” tanya Lita. “yaudah gpp, seadanya aja deh” jawab Raid lagi.
Setelah semua tugas sudah selesai terjawab dan pembagian tugas sudah terlaksana, mereka berenam bercanda ria dengan saling melontarkan leluconan. “parcel apa yang ada dipinggir jalan?” tanya Rasya. “parcel natal Cikini” jawab Dhiba. “salah salah. Hayo nyerah gak?” ledek Rasya. “aku tau jawabannya itu parcel lele” sahut Cicit. “wah hebat kamu Cit, klo soal tebak-tebakan pasti bisa jawab” puji singkat dari Rasya.
Selama masa Orientasi Pengenalan Kampus yang berlangsung 3 hari sejak hari senin, semua mahasiswa dan mahasiswi dipulangkan sekitar jam 5 sore. Dan pada hari terakhir kelompok Dhiba memutuskan setelah pulang OSPEK untuk main kerumah Lita yang diantara mereka tidak ngekost seperti yang lainnya karena Lita asli Surabaya.
“mau minum apa kalian?” tanya Lita sebagai tuan rumah. “apa aja yang penting dingin deh” pinta Cicit. “ok lah. Tunggu sebentar teman dan yang mau shalat wudhu disitu aja arah kiblat ke lemari ya” jelas Lita sambil mengambilkan mukena, sarung dan sajadah. Mereka shalat dengan berjama’ah kebetulan yang cowok memakai celana panjang dan hanya Cicit yang shalat karena Dhiba non muslim. Sambil menunggu, Dhiba mengelilingi kamar Lita sambil melihat berbagai foto yang di letakkan pada dinding yang berbentuk persegi tersebut.
“kamu ngapain Dhib? Kamu gak shalat? ,mukenanya kurang ya?” tanya Lita secara beruntun. “aku lagi lihat foto-foto kamu sambil menunggu mereka shalat. Aku kan non muslim Lit” jawab Dhiba sambil memegang salah satu bingkai foto milik Lita. “o yaudah ini minum dulu aja” singkat Lita dan memberikan segelas sirup.
Seusai shalat magrib, lelucon waktu dikampus dilanjutkan kembali dikediaman Lita. Ditengah tawa dan canda, mereka bercerita tentang asal kota masing-masing. Ternyata diantara berenam tidak ada satu pun yang berasal dari kota yang sama. Raid dari Padang, Cicit dari Yogyakarta, Dina dari Bandung, Rasya dari Kalimantan, Dhiba dari Jakarta sedangkan Lita asli dari Surabaya. Perbincangan malam itu ditutup dengan alasan mereka mengambil jurusan Teknik di Institut Teknologi Sepuluh November. Dan berlima segera bergegas kembali ke asrama yang berdampingan di kampus dengan mengendarai kendaraan umum.
“kita ruangan berapa sih mata kuliah pertama? Tanya Dina. “aku belum paham nih cara baca kelasnya. Gimana sih ? tanya Dhiba. “ya tinggal baca aja. Digit pertama menunjukkan lantainya dan dua digit terakhir menunjukkan ruangannya” jelas Cicit. “berarti kita dimana sekarang?” tanya Dina lagi. “kita lantai 4 ruangan T3” jelas Cicit sambil menunjuk arah kelasnya.
Seiring berjalannya waktu kuliah, kedekatan mereka berenam semakin erat satu sama lainnya bahkan tak jarang rumah Lita menjadi tempat persinggahan dan bermalam bagi semuanya. Orang tua Lita pun mengenal baik mereka berenam. Selain itu, ternyata mereka memiliki hobi yang sama yaitu jalan-jalan keberbagai pelosok di kota masing-masing.
“besok libur kan kampus 3 hari? bagaimana klo kita mengelilingi Surabaya menggunkan kendaraan umum? Usul Dhiba yang memang senang liburan paket murah. “boleh tuh. Tapi naik mobil aku aja itu akan jauh lebih murah” sahut Lita. “klo memang kamu tidak keberatan, boleh aja sih Lit” tambah Raid. “yaudah kita ngumpul disini ya setelah shalat shubuh” jelas Lita.
Semua menyiapkan diri dan perlengkapan yang dibutuhkan serta mengumpulkan tas pada kamar di asrama Cicit karena kamarnya memang lebih luas dibandingkan yang lain. Dan tak lupa mereka pun menyiapkan beberapa makanan ringan dan obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan.
“Lit, kayanya kita dianter ke terminal aja deh. Soalnya gak seru banget klo kita naik mobil mewah” pinta Dhiba.”gimana yang lainnya?” tanya lita. “iya juga sih, rencana kita tuh mengunjungi sebuah desa kan biar seru kita jalan kaki aja” jelas Rasya. “ok deh. Pak anter kami ke terminal aje deh” pinta Lita kepada supir keluarganya. “iya mbak Lita” jawab Pak Rofi.
Perjalanan ke desa Kenjeran dilalui sekitar 1 jam. Disana mereka mencari rumah warga yang bisa disinggahin dalam beberapa hari. Selain itu mereka bisa membagi ilmu kepada anak-anak di desa tersebut. Pilihan mereka tunjukkan kepada rumah  pemuka agama “asalamualikum wr wb permisi pak, kami dari mahasiswa dan mahasiswi ITS kami ingin beberapa hari singgah di desa ini. Boleh kami bermalam dirumah bapak? Tanya Rasya yang yang terkenal berani karena mengikuti BEM. “iya nak, silahkan saja. Perkenalkan nama bapak H. Gofurahman dan ini istri saya” jelas pak gofur dan memperkenalkan istrinya. “saya Rasya, Raid, Cicit, Dina, Lita dan Dhiba” ucap secara bergantian.
Allahu akbar allahu akbar … Adzan dzuhur berkumandang dan pak Gofur menyiapkan ruangan untuk Rasya dan teman-temannya melakukan shalat. “kamu sedang halangan nak?” tanya bu Gofur. “tidak bu. Saya non muslim” singkat Dhiba. “oh maaf nak, ibu kira kamu muslim. Sepertinya kamu sedang ada masalah?” tanya Ibu lagi. “gpp bu sudah banyak yang mengira seperti itu. tidak bu, ada dalam kondisi baik kok” jelas Dhiba. “baiklah. Ibu tinggal dulu ya nak” pinta Ibu Gofur dan langsung menuju ruangan shalat.
“sudah sekian kali aku merasakan ini dan apakah iya muka ku merupakan muslim” batin Dhiba sambil memandangi pemandangan dari balik jendela. Ayah Dhiba memang non muslim namun ibu Dhiba seorang muslim. Hingga saat ini Dhiba tidak bisa menentukan pilihannya karena semua hal harus mengikuti perkataan dari ayahnya kecuali pilihan jurusan kuliah dan kampus saat ini. Hal itu pun Dhiba lakukan dengan pemberontakan  terhadap ayahnya. “dhib, kamu ngapain disini?” tanya Lita. “aku sedang menikmati udara dan nuansa disini, indah banget” jelas Dhiba.
Sore ini Rasya dan teman-teman keliling desa dengan ditemani ibu Gofur. Banyak sekali hal yang dipelajari di desa ini. “kamu kenapa nangis Dhib?” tanya Raid. “gpp. Aku Cuma terharu sama anak kecil yang mengaji di surau itu” jelas Dhiba sambil mengusap pipinya. Setelah puas berkeliling dan shalat as’ar bersama di surau tersebut maka langsung balik lagi ke rumah bu Gofur dan dilanjutkan dengan makan malam serta magrib dan isya.
“ibu, boleh aku cerita sesuatu dan meminta pendapatmu?” tanya Dhiba. “silahkan nak, selagi bisa ibu akan bantu. Apakah ada hubungannya dengan tadi siang dan tangis mu di sore hari?” tanya ibu Gofur. “iya bu. Sebenarnya aku ingin sekali masuk muslim mengikuti jalan ibuku. Aku dan ibu tidak pernah bisa menentukan kehidupan kami, semuanya ayah yang menentukan. Namaku yang ibu berikan ‘Siti Dhiba Al-banna’ namun saat ayah tau langsung diganti menjadi ‘Dhiba Caroline Simanjutak’. Hingga akhirnya aku tak kuat dan memutuskan untuk kuliah diluar Jakarta walau aku tak tega melihat ibu sendiri dan jauh dariku. Mulai saat itu aku tak lagi dianggap sebagai anak oleh ayah” cerita Dhiba dengan dibanjiri air mata. “nak, pulanglah dan tengok ibu mu, kasihan Beliau. Jika memang kau yakin dengan agama Islam maka lakukanlah sehingga kamu bisa meminta pertolongan kepada Allah SWT untuk meluluhkan hati ayah mu dan menerima mu kembali” jelas ibu Gofur dengan penuh ketenangan.
Setelah pembicaraan malam itu, Dhiba mulai yakin dengan apa yang harus dilakukan karena selama ini Dhiba bingung harus cerita kepada siapa dan baru kali ini Dhiba berani mengungkapkan. “pak Gofur, bisa kah menjadikan aku seorang muslim?” pinta Dhiba yang didamping ibu Gofur. “allahu akbar. Bisa nak namun bagaimana dengan keluarga mu?” tanya pak Gofur. “aku ingin ibu dan aku bisa pergi ke surga Allah SWT serta ayah aku yakin suatu hari pasti bisa menerima kami” jelas Dhiba penuh kekuatan. “insyaallah nak, kapan kamu menginginkan untuk menajdi muslim?” tanya lagi. “sekarang juga pak” singkat Dhiba.
Dhiba ditemani teman-temannya serta Ibu Gofur menuju surau terdekat agar bisa disaksikan dengan pemuka agama lain serta warga sekitar. “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah” tuntun pak Gofur kepada Dhiba. Serta ada beberapa doa lainnya serta Dhiba diberikan satu perlengkapan shalat, pakaian serta kerudung dan buku-buku tentang islam.
Usai peristiwa di Surau, Dhiba dan rekan-renkan langsung balik lagi menuju kediaman Lita. “terima kasih bu Gofur telah meyakinkan aku” ucap Dhiba. “iya bu, makasih juga sudah mengizinkan kami bermalam disin” sahut Raid dan Dina. Ibu dan bapak Gofur mengantar hingga terminal terdekat.
“kami bangga dengan mu Dhiba dan kami akan  terus mendukungmu” ucap teman-teman sepanjang perjalanan. Sesampai di terminal, Lita meminta pak Rofi untuk menjemput seperti pertama kali diantarkan. Mereka semua bermalam dirumah Lita kembali untuk menghabiskan hari libur yang terakhir sambil mengajarkan Dhiba shalat serta mendukung Dhiba untuk segera menengok ibunya. 

0 Ocehan:

Posting Komentar

 

Bocah Psikologi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review