Senin, 08 Oktober 2012

Practice Makes Perfect

Diluncurkan oleh Bocah Psikologi di 11.45.00
Alhamdullillah lagi- lagi masih diberikan kesempatan ...

          Sepertinya akan banyak tulisan yang tertuang dalam blog perihal psikologi kognitif. Kali ini ane ingin membahas tentang kasus yang ane utarakan di depan kelas dan dibahas oleh rekan-rekan. Dan kita akan coba praktek kan tahapan tersebut, berhasil atau tidak kah ?.

          Setiap manusia pasti memiliki cita-cita dan keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih menjanjikan dan lebih baik dari sebelumnya. Ketika manusia memiliki 2 keinginan, anggaplah pertama keinginan makan martabak dan kedua keinginan untuk lulus mata kuliah statistik. Jika dilihat dari keinginannya maka keinginan pertama dapat dikatakan tidak memerlukan waktu yang lama untuk merealisasikannya. Paling lama, mungkin akhir bulan atau setelah gajian. hahahhaha. Tapi berbeda hal nya dengan keinginan kedua yang memerlukan waktu yang cukup panjang, yaitu 1 semester yang kurang lebih selama 6 bulan.Dan ketika proses pembuktian lulus atau gagal nya maka setiap orang akan diliputi perasaan yang beragam, misalnya cemas, galau, tenang atau bahkan biasa saja.

          Ketika kita merasakan cemas yang berlebih maka akan menggangu kehidupan kita. Lagi-lagi kognitif yang menjalankan raga kita dan mengacak-acak perasaan di batin.Mulai saat itulah kita menganggap diri kita salah, bodoh atau mungkin lainnya. Menurut dosen ane yang telah membaca artikel Goldman, setiap yang menakutkan bukan untuk dihadapi apalagi dihindari melainkan dipeluk hal-hal yang menakutkan tersebut. Mengapa ? karena ketika kita menghadapi atau menghindari maka bisa saja sesuatu saat hal tersebut bisa muncul kembali dan khawatir menjadi boomerang bagi diri sendiri. Maka biarkan hal yang menakutkan tersebut menjadi bagian dari kehidupan sepanjang masa. 




          Contoh nya seperti ini, ketika kita merasakan cemas maka ajak lah kecemasan tersebut melekat pada diri kita. Cemas, besandarlah dengan tenang di pundak kiri ane, jangan menganggu kehidupan dan pikiran ane. Biarkan kita menyatu dalam raga ini tanpa ada yang tersakiti atau teraniyaya.
           
          Awalnya memang sulit sekali untuk melakukan hal tersebut, tapi yakin detik demi detik pasti rasa cemas akan menjadi satu dengan kehidupan dan tidak ada lagi penolakan atas kehadirannya. Selain itu, sulit menerima atau menjalankan tahapan tersebut karena dianggap seperti orang gila atau orang aneh. tapi biarkan orang berbicara apa yang terpenting kita sedang menuju proses "tuan dari pikiran". Jangan biarkan pikiran yang memainkan raga kita.

0 Ocehan:

Posting Komentar

 

Bocah Psikologi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review